Pertanyaan ini sering kali muncul di benak banyak orang, terutama bagi mereka yang dulu mengenal sosok 'penulis' sebagai seseorang yang selalu duduk di depan mesin tik atau laptop selama berbulan-bulan, lalu menerbitkan sebuah buku fisik yang dipajang di rak toko buku ternama. Namun, zaman telah berubah dengan sangat cepat. Jika Anda bertanya kepada seorang penulis hari ini, "Dulu nulis buku, sekarang nulis apaan?", jawabannya mungkin akan jauh lebih bervariasi dan mengejutkan.
Dunia literasi tidak lagi terbatas pada kertas dan tinta. Transformasi digital telah mengubah cara kita mengonsumsi informasi, yang secara otomatis mengubah lanskap pekerjaan bagi para penulis. Artikel ini akan membedah secara mendalam ke mana perginya para penulis buku konvensional dan apa saja peluang karier menulis yang sedang tren saat ini.
Nostalgia Era Emas Buku Cetak
Dulu, menjadi penulis buku adalah puncak dari segala pencapaian intelektual. Prosesnya panjang dan melelahkan: mulai dari riset, menulis draf, mengirimkan naskah ke penerbit mayor, menunggu kabar berbulan-bulan, hingga akhirnya masuk ke tahap penyuntingan dan cetak. Ada kepuasan tersendiri saat melihat nama kita tertera di sampul buku yang bisa disentuh secara fisik.
Namun, ekonomi perhatian (attention economy) telah bergeser. Masyarakat sekarang cenderung mencari informasi yang lebih cepat, ringkas, dan mudah diakses melalui gawai mereka. Hal ini tidak berarti buku telah mati, tetapi 'wadah' kreativitas penulis telah mengalami diversifikasi yang luar biasa.
Transformasi: Dari Penulis Buku Menjadi Content Creator
Banyak penulis buku masa lalu kini bertransformasi menjadi Content Writer atau Blogger. Mengapa? Karena di sinilah audiens berada. Menulis di blog atau platform konten memungkinkan interaksi langsung dengan pembaca. Tidak perlu lagi menunggu laporan royalti setiap enam bulan sekali; penulis bisa melihat statistik pembaca secara real-time.
1. Copywriting: Menulis untuk Menjual
Salah satu jalur yang paling banyak diambil oleh mantan penulis buku adalah menjadi Copywriter. Jika dulu mereka menulis untuk menghibur atau mengedukasi dalam ratusan halaman, sekarang mereka ditantang untuk merangkai kata-kata persuasif dalam satu kalimat iklan atau caption media sosial. Kemampuan bercerita (storytelling) yang dipelajari saat menulis buku sangat berguna di sini untuk membangun emosi konsumen.
2. UX Writing: Menulis untuk Pengalaman Pengguna
Ini adalah bidang yang relatif baru namun sangat menjanjikan. Seorang UX Writer bertanggung jawab atas kata-kata yang Anda lihat di aplikasi ponsel, seperti tombol 'Beli Sekarang', pesan error, atau panduan pendaftaran. Tujuannya adalah membuat pengalaman pengguna semudah mungkin. Meskipun terlihat sederhana, dibutuhkan logika bahasa yang kuat—sesuatu yang biasanya dimiliki oleh para penulis buku yang teliti.
3. Scriptwriting untuk Konten Video
Pernahkah Anda menonton video YouTube yang sangat mengalir ceritanya atau TikTok yang membuat Anda terus menonton hingga akhir? Itu adalah hasil kerja keras seorang penulis naskah atau Scriptwriter. Banyak penulis buku kini beralih menulis naskah untuk YouTuber, podcast, atau bahkan seri web. Intinya tetap sama: bercerita. Hanya mediumnya saja yang berubah dari teks menjadi audio-visual.
Bangkitnya Platform Self-Publishing dan Newsletter
Dulu, penerbit adalah 'penjaga gerbang' (gatekeeper) yang menentukan apakah karya Anda layak baca atau tidak. Sekarang, gerbang itu telah runtuh. Penulis yang dulu menulis buku kini banyak yang beralih ke platform mandiri.
- KaryaKarsa atau Wattpad: Platform ini memungkinkan penulis untuk menerbitkan karya secara langsung dan mendapatkan dukungan finansial langsung dari pembaca setia.
- Substack (Newsletter): Menulis surat elektronik atau buletin berlangganan menjadi tren baru di kalangan intelektual dan jurnalis. Ini adalah cara bagi penulis untuk membangun komunitas yang sangat segmented tanpa campur tangan algoritma media sosial yang liar.
- E-book di Amazon Kindle atau Google Play Books: Menghilangkan biaya cetak dan distribusi fisik, memungkinkan penulis mendapatkan margin keuntungan yang lebih besar.
Mengapa Perubahan Ini Terjadi?
Pertanyaan "sekarang nulis apaan?" juga didorong oleh realitas ekonomi. Menulis buku secara tradisional sering kali dianggap sebagai hobi yang sulit dijadikan tumpuan hidup utama bagi banyak orang, kecuali bagi mereka yang karyanya menjadi best-seller nasional. Di sisi lain, dunia digital menawarkan aliran pendapatan yang lebih beragam, mulai dari proyek lepas (freelance), gaji tetap di agensi, hingga monetisasi konten mandiri.
Selain itu, kecepatan informasi menjadi kunci. Jika seorang penulis ingin merespons isu terkini, menulis buku membutuhkan waktu setahun untuk terbit. Namun, dengan menulis artikel SEO atau opini di platform digital, mereka bisa memublikasikannya dalam hitungan menit.
Keahlian yang Harus Dimiliki Penulis Zaman Sekarang
Jika Anda adalah seorang penulis buku yang ingin terjun ke dunia digital, ada beberapa keahlian baru yang harus dipelajari agar tetap relevan:
- SEO (Search Engine Optimization): Memahami bagaimana mesin pencari bekerja agar tulisan Anda ditemukan oleh orang yang tepat.
- Data Analysis: Mampu membaca data pembaca untuk mengetahui topik apa yang paling disukai.
- Micro-copy: Kemampuan menulis singkat, padat, dan jelas.
- Networking Digital: Membangun personal branding di platform seperti LinkedIn atau X (Twitter).
Kesimpulan: Menulis Tetaplah Menulis
Jadi, jika ditanya "Dulu nulis buku sekarang nulis apaan?", jawabannya adalah: menulis masa depan. Medium boleh berubah dari kertas menjadi layar, dari tinta menjadi piksel, tetapi esensi dari menulis tetaplah sama: menyampaikan gagasan, berbagi perasaan, dan menghubungkan satu manusia dengan manusia lainnya melalui kekuatan kata-kata.
Apakah Anda seorang mantan penulis buku yang sekarang sedang merambah dunia copywriting, atau seorang pemula yang bingung ingin mulai dari mana, ingatlah bahwa dunia digital menyediakan panggung yang lebih luas dari rak toko buku mana pun. Jangan takut untuk berevolusi. Karena pada akhirnya, seorang penulis akan selalu menemukan cara untuk tetap menulis, apa pun medianya.
Jadi, apa yang Anda tulis hari ini?
*** Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca halaman ini. Jika kamu merasa informasi di blog ini bermanfaat, jangan ragu untuk menjelajahi artikel lainnya—siapa tahu, ada topik lain yang juga relevan dan menarik untukmu.